GGS (Gara-Gara Skripsi)
Tampak
seorang gadis berumuran 21 tahun yang diketahui namanya Kare sedang mamainkan
notebooknya dengan lincah ditemani alunan musik yang menambahkan kesan bahwa
dirinya benar-benar menikmati setiap alunan lagu yang dimainkah oleh sebuah
radio.Tidak lupa menambahkan kesan bahwa dirinya sedang sibuk atau bisa
dibilang tidak ada waktu untuk bermalas-malasan,dengan terampilnya ia memainkan
jari-jarinya itu di atas keyboard sambil melihat setiap kata yang tampil di
layar notebook.
Dia adalah seorang
mahasiswa jurusan pendidikan biologi yang sudah lama mengambil jenjangnya itu
di Universitas Islam Negeri Jakarta atau yang singkatnya UIN dan tidak bisa
dipungkiri lagi kalau universitas itu berbasis islam,tak lama lagi ia akan
lulus dari universitas yang membuat dirinya harus beli obat oskripsi karena ia
terkena demam skiripsi menyebabkan dirinya harus ngoceh ga jelas.
“Hei,
hentikan ocehanmu itu baka aniki”,bentak seseorang panggil saja namanya Cumit yang
diketahui sebagai adik semata wayangnya itu “membuat gendang telingaku rusak
tahu”, Serunya sambil menutup kupingnya yang berkedut karena teriakan dari
kakaknya itu yang bahkan mengalahkan suara klakson kapal pesiar.
“Oh,maaf!apa
aku menggangumu”katanya dengan memasang wajah tampang tidak bersalah.
“Dasar mie kare,membuatku ingin makan mie kare saja”dia pun pergi
meninggalkan kakaknya itu yang sukses memasang muka jangan lupa dia ikut cengo
karena kekonyolan adiknya itu,”dasar aneh”
Huh lupakan
adiknya itu dan kita kembali ke Kare yang memakai kacamata hampir setebal
pantat botol.Dia pun lelah dengan tugas skripsi,tugas ppt, tugas apa ajalah
yang penting namanya tugas yang diberi oleh dosen killernya itu,belum lagi
tugas harian yang ia harus kerjakan
kalau tidak dikerjakan maka bersiaplah ia tidak
dapat uang jajan , jangan sampai begitu, Bagaimana nasib skripsi dan
ongkos pergi ke kampus? masa dia harus ngutang ketemannya nanti bisa panjang
urusannya.
Dering ponsel
Kare membuyarkan lamunannya itu, dengan nada Bunga terakhir yang dinyanyikan
oleh penyanyi yang terkenal dengan baladnya itu kalau bukan Afgan yang jadi penyanyi favoritnya itu mungkin yang
membuatnya ngefans sama Afgan karena ia sama-sama memakai kacamata.Dengan malas
ia meraih ponsel dan menekan tombol hijau.
“Sayang? Kamu
sudah sehat hari ini?obatnya sudah diminum?” ucap pria yang terdengar
samar-samar.
“Sudah! kamu
jangan menggangu sana pergi, Assalamualaikum” bentak suara yang terdengar di
ponsel,” hehehe maaf ya Kare itu tadi Fahru oh ya gimana skripsinya udah jadi
blom”Tanya suara yang digantikan oleh suara perempuan sepertinya itu teman
kostnya yang bernama Fahmi.
“oh”mulut Kare
pun melebar hampir membuat huruf O,”Kare jawab salam dulu donk jangan O
aja,”iya iya wa’alaikumsalam belum jadi nih skripsinya kepala lagi pusing mau
dilanjutin apa di pause belum nemu ide yang cocok sama skripsi lagian tugas PPT
juga belum selesai”sahut Kare dengan panjang lebarnya.
“Kare tuh
dosen beneran killer banget masa tugas yang setumpukkan itu harus diselasaikan
minggu ini mendingan kita demo aja tuh sekelas”ujar Fahmi dengan semangat 45
nya.
“Eh,jangan Fahmi
nanti lu mau IPK lu E”sahut Kare berusaha menghentikan ide gila temannya itu.
“iya deh gue
ga bakalan begitu ,gua juga takut kali kalo nilai gue E bisa-bisa ga bakalan
lulus dari kampus lagian gue harus wisuda sekalian banggain orang tua pembuktian
kalo gua berhasil lulus”kata Fahmi dengan yakinnya.
“Ngomomg-ngomong,
Fahmi lu so sweet banget sama si Fahru,teman sekelas Kare dan Fahmi,jangan-jangan
lu ama dia udah jadian ya?tanya Kare penasaran”Lu kok tahu sih Kare kalo gue
sama Fahru jadian”ujar Fahmi dengan lenjenya.
“Dari nada
bicaranya Fahru yang sok perhatian sama lu”ujar kare dan membuat Fahmi
tersentak dengan ucapan Kare tadi”Gimana lu tahu Kare,jangan-jangan lu
mata-matain gue ya?
“Nih
orang benaran kelewatan bercandanya”ucap
Kare dalam hati sudah cukup dirinya menerima lawakan dari adiknya dan teman
sekostnya itu yang terkenal dengan kelebayannya.
“Kare kapan lu punya pacar kayanya lu sibuk banget sama tugas
cobalah untuk bersantai”
Tak lama
kemudian, terdengar suara adiknya memenggil namanya.Dia pun tergerak bangkit dan menuju sumber suara yang
memancing rasa amarahnya itu karena temannya menanyakan hal tabu pada dirinya,tak
lupa ia menekan tombol pause dilayar ponsel untuk melanjutkan pembicaraannya
dengan Fahmi.
“Ada apa Cum”Kata
kare dengan amarah yang meluap-luap,”Eits,jangan marah dong kak cuma minta
tolong aja ini jawabannya berapa?jawab Cumit dengan cengiran lebarnya.
“Kau ini baka
sekali sih,sini bukunya!Titah Kare kepada adiknya yang langsung menyerahkan
bukunya itu ke Kare tak perlu lama ia berhasil mengerjakan soal itu dalam waktu
1 menit”benar-benar rekor,terbaik”ucap Cumit sambil mengacungkan jempolnya ”sudah
tidak ada lagi kan yang perlu dibantu?tanya Kare kepada Cumit”ga ada kak,ini
sudah cukup kok terima kasihya atas bantuannya”jawab Cumit masih dengan
cengiran lebarnya”hmppt” Kare pun menyahutinya.
Kare pun
mulai menyambungkan dirinya dengan Fahmi”Kare Kok lama banget sih emang ada
masalah lagi”Tanya Fahmi penasaran,”Tadi adikku menyuruhku membantunya
mengerjakan soal”.”Oh begitu”Kata Fahmi sambil menganggukkan kepala tanda
mengerti.
“Oh ya Fahmi
aku ada pesan untukmu bahwa tugas itu harus segera dikerjakan jika kita tunda
maka tugas tersebut tidak bakalan terselesaikan sebaliknya jika kita segera
berusaha mengerjakan maka hasil yang kita tuai akan langsung berada di tangan
kita dan sesuai dengan harapan yang diinginkan,bukannya aku gak mau pacaran
tapi sebaiknya menunda sampai menikah
islam kan menganjurkannya begitu”tutur Kare dengan bijaknya sukses membuat
Fahmi tercengang dengan kata-kata yang dilontarkan Kare barusan”Fahmi sampai
disini saja ya pembicaraan kita kali ini ,wassalam”
Kare pun
langsung menutup telepon,ia pun terkejut bagaimana ia bisa memiliki pemikiran
seperti itu mungkin ada petunjuk yang akan menyelesaikan persoalannya,berterimakasihlah
ia pada skripsinya itu yang membuat
dirinya berpikir keras , adiknnya yang konyol dan temannya yang cerewet membuat ia terus
menyombongkan diri betapa hebat pemikirannya itu.
Keluargaku Semangat Hidupku
Saat burung-burung sudah berkicau dengan merdunya dan si
mentari pagi mulai menampakkan dirinya dan pada saat itu juga aku masih
berbalut dengan piyama yang kupakai terbaring lemah dikasur, kubuka mata dan kupandangi
sekitar sudut kamar. Akupun berjalan menuju kamar mandi sekedar untuk membasuh
wajah yang lusuh ini.
Saat aku menuju keruangan yang menjadi tempat favorit ku
yang kedua setelah kamar tidurku yang
nyaman itu, kalau bukan sebuah ruangan yang disudutnya terdapat TV dengan layar
33 inch merek LG kupandangi layar itu dengan penuh kekhusuan, kenapa aku sangat
menikmati acara itu jawabannya adalah karena acara yang sedang ditayangkan itu
adalah acara yang menjadi favorit kami berdua aku dan kakakku tentunya. Di sela
acara itu aku menjadi kebingungan kenapa kakakku yang biasanya tergila-gila
dengan acara itu tak kunjung hadir. aku mengumpat dalam hati apa yang terjadi
dengan kakakku itu .
“Hah
pasti dia ketiduran lagi” kata diriku sambil menyeruput mie panas yang diseduh ibu
barusan.
Akan
tetapi kenapa dengan kedua orangtuaku yang tak biasanya berlari-lari cepat
menuju ke kamar kakak, akupun lebih terkejut lagi melihat nenek muncul dari
balik pintu ruang tamu dan berjalan menuju kamar kakak.
“Apa yang
terjadi” kataku sambil menuju kamar kakakku. Ayah menyadari diriku yang berdiri
tegap memasang wajah innocent.
“kakakmu
sedang demam dan pagi ini dia tak bisa mengantarmu ke sekolah, jadi kamu jalan
kaki saja ke sekolah, seharusnya kamu peduli dengan kakakmu itu!”kata ayah
sambil memegang pundakku.
“
Merepotkan sekali sih kakak itu, tapi Ayah aku enggak mau jalan kaki, kalau
begitu ibu saja yang mengantar aku ke sekolah sekalian berangkat mengajar, kataku
sambil memasang muka semelas mungkin berharap ibu mengabulkan permintaanku ini.
“ibu gak
bisa, ibu juga harus pergi ke sekolah untuk mengantar kakakmu ke rumah sakit
dan mengantar surat izin ke sekolahnya, sudah kamu mandi sana nanti terlambat
ke sekolah”. kata ibu sambil memasang wajah galaknya.
“Ternyata ibuku
itu menyebalkan sekali ,masa aku harus jalan kaki terus, kan malas” batin
diriku lemas.
Aku pun
mengeluh sambil berjalan menuju kamar mandi, selepas mandi aku berpakaian rapi
dengan seragam merah putih yang menjadi lambang bahwa diriku anak sekolah
dasar. Setelah berpamitan dengan ayah, ibu, dan nenek, lalu aku pun berlari, takut
akan terlambat sekolah. Setelah sampai
di gerbang sekolah akupun berjalan ke kelas,setelah itu diriku duduk dibangku
tepatnya dibelakang melepas semua penat yang menjalar diriku. Akan
tetapi,kenapa aku duduk sendirian biasanya ada yang menjadi teman sebangku
sejak kelas 2 SD. Aku mencari dia dan tepatnya ia duduk bersama temanku yang
lain, aku pun tidak mau menegurnya takut ia akan tersinggung nantinya. Bel pun
berbunyi menandakan waktunya untuk istirahat, aku keluar berjalan ke kantin
sendirian karena teman-temanku sepertinya marah kepadaku tanpa ada alasan yang
jelas kenapa aku dicuekin seperti ini, rasanya seperti tertusuk seribu jarum. Aku
pun terus berbicara dalam hati.
“kenapa
dengan diriku ini , apa ada yang salah dengan diriku sepertinya aku baik-baik
saja kepada mereka, kenapa mereka terus tak peduli pada diriku” bathinku ikut
menangis.
Saat sampai
di kelas aku melihat teman-temanku sedang berbisik-bisik, sepertinya mereka
membicarakan diriku. Aku sudah tidak tahan dengan mereka dan langsung menegur
mereka.
“Eh,kalian kenapa sih dan apa salah diri gue” kata diriku
marah.
“Salahlu banyak
tentunya, udah ga usah pake nangis segala” kata temanku menyindir.
“Gue gak nangis” kata diriku kesal. Aku pun teringat apa
yang membuatnya marah
“Oh lu masih marah sama
gue, gara-gara ibu gue bilang lu contek
ulangan gue terus lu menyalahkan gue kan kalau gua bilang kok. Yaudah kalau gue salah, gua minta
maaf deh” kata diriku meyakinkan.
“Tuh lu tahu alasanya,yakin lug a bilang ke ibu lu buktinya
ibu lu menyalahkan gue sih kan gue cuma mau minta kasih caranya saja, udah
terlanjur gua marah sama lu ” kata temanku dengan sinisnya.
Diriku menyesal seharusnya aku bilang ke ibu yang pada saat itu menjadi wali
kelasku aku.
Setelah pulang sekolah diriku menyempatkan diri ke rumah
nenek untuk mengambil kunci rumah karena orangtuaku menemani kakak di rumah
sakit sampai besok pagi. Aku sangat kesepian seperti tunawisma yang tinggal
dijalani hanya ditemani sekotak kardus bekas, begitu kesepiannya diriku akupun
terus saja menangisi kelamnya hidupku hari ini dimulai dari kakak yang sakit, ditinggal
orangtua, dan dicuekin teman. Aku begitu merindukan hidupku yang gembira
seperti berkumpul dengan keluarga dan bersenang-senang dengan kawan-kawan, akan
tetapi hidup seperti itu tidak hadir padaku pada saat ini dan Tuhan berkehendak
lain, sepertinya Tuhan tidak akan memberikaan cobaan hidup yang lebih berat
lagi kepadaku.
Di saat kesenyapan ini berlangsung tiba-tiba diriku
mendengar suara telepon rumah
Kring..kring..kring, ku hentikan tangisanku lalu pergi ke
arah asal bunyi itu
“Assalamu’alaikum”akupun mulai berbicara pada sumber suara
di telepon itu
“waalaikumsalam, apa kamu tak apa-apa suaramu seperti habis
menangis, apa kamu sedang ada masalah?”
“tidak ada masalah kok bu, aku baik-baik saja, oh ya gimana
kabar kakak apa dia sudah baikkan”
“Kakakmu baik-baik saja kok, demamnya sudah turun dan
trombositnya juga sudah stabil”
“syukurlah”
“Yasudah,jaga dirimu di rumah ya,jangan sampai sakit”itu
adalah pesan yang disampikan oleh ibu setalah dia menutup teleponnya.Tapi pesan
itu sepertinya tidak kutepati, panas sudah menjalar ke seluruh
tubuhku,tiba-tiba badanku terasa lemas,letih
dan lesu langsung saja kubaringkan badanku ke kasur lantai dekat TV dan
sungguh ini hari yang berat bagiku.
Keesokan harinya
Kupaksakan tubuhku untuk berangkat sekolah tapi setelah
sampai dikelas temanku menghadang diriku sepertinya ia ingin berbicara empat
mata denganku
“Aku minta maaf atas kemarahanku kepadamu aku sangat
bersalah seharusnya diriku ini sadar atas perilaku buruk ini diriku tidak mau disalahkan menjadikan diriku kejam.




